![]() |
| Bukber: Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman saat sambutan sekaligus beri pengarahan kepada warga kerukunan keluarga Sulawesi Selatan sAt buka bersama, (Foto: Istimewa/MP). |
Dalam momentum tersebut, Mentan Amran menyampaikan pesan mendalam mengenai persatuan, integritas, dan komitmen tanpa kompromi dalam membela hak-hak rakyat kecil.
Di hadapan ribuan warga KKSS, Amran mengingatkan bahwa jabatan dan kekayaan hanyalah panggung sandiwara yang bersifat sementara. Ia menekankan pentingnya menjaga keselarasan antara ucapan dan perbuatan sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada Tuhan.
“Jujur dan adil dalam bertindak, karena kita diteropong oleh Allah. Ini hanya panggung sandiwara. 70–80 tahun kita pergi. Yang mengantar kita adalah amal kebaikan kita pada manusia. Nah Bapak Ibu, kita semua sama,” ujar Mentan Amran.
Sosok yang dikenal tegas ini juga menceritakan pengalamannya saat turun ke lapangan dan menemukan ketidakadilan. Amran menegaskan bahwa dirinya tidak segan mengambil tindakan ekstrem, termasuk memecat pejabat atau memenjarakan oknum yang berani menzalimi petani kecil dengan menahan bantuan alat mesin pertanian.
“Hati-hati, suara rakyat adalah suara Tuhan. Kami pernah kunjungan dan menemukan ibu-ibu mencangkul pakai kayu. Saya bilang, kalau peralatan tidak dikeluarkan, kami hentikan bantuan satu provinsi dan kepala dinasnya dicopot hari itu juga,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa langkah tegas tersebut bukanlah bentuk kezaliman, melainkan upaya menegakkan hukum bagi mereka yang memakan hak rakyat.
“Bukan aku zolimi, tapi aku yang kirim ke penjara karena dia menzolimi rakyat kecil. Kami tidak ada kompromi,” imbuhnya.
Sebagai tokoh asal Sulawesi Selatan, Amran menilai KKSS memiliki potensi luar biasa untuk memberikan pengaruh positif bagi bangsa jika tetap solid. Dengan estimasi 16 juta warga Sulawesi Selatan yang tersebar di seluruh Indonesia, ia mengajak warga KKSS untuk saling menguatkan dan membuang jauh sikap sombong.
“Kalau KKSS ini menyatu, itu bisa memberi pengaruh besar bagi bangsa ini, bahkan mengubah kebijakan Republik Indonesia. Kita ini semua bersaudara, tidak usah mencari perbedaan. Orang sukses tidak bisa berdiri sendiri,” tuturnya.
Mengakhiri arahannya, Mentan Amran berbagi kisah masa lalunya yang berasal dari desa miskin. Ia menekankan bahwa kunci perubahan nasib adalah perubahan pola pikir (mindset) dan kerja keras yang dibalut dengan kejujuran, sebagaimana pesan orang tuanya untuk tidak pernah mengambil hak orang lain.
“Apapun pekerjaan kita, lakukan yang terbaik. Mau jual cendol, juallah cendol terbaik. Jangan pernah ada niat menipu, karena menipu hamba Allah sama dengan menipu Tuhan, dan itu tidak akan berkah,” pungkas Amran.
Acara buka puasa ini berlangsung khidmat dan menjadi ajang silaturahmi besar bagi masyarakat perantau asal Sulawesi Selatan untuk mempererat ikatan kekeluargaan di ibu kota.

