![]() |
| Mudik: Kasat Lantas Polres Lombok Timur, AKP Abdul Rachman, (Foto: Rosyidin/MP). |
Kasat Lantas Polres Lombok Timur, AKP Abdul Rachman, mengungkapkan bahwa kebijakan pemerintah pusat yang memberikan durasi libur cukup panjang serta penerapan Work From Anywere (WFA) bagi ASN kementerian menjadi faktor kunci dalam pemerataan arus kendaraan tahun ini.
"Potensi pelaksanaan mudik ini lebih merata. Artinya, tidak tertumpuk di satu atau dua hari puncak saja, tapi puncaknya ada dua di masing-masing fase, baik itu saat arus mudik maupun arus balik," ujar AKP Abdul Rachman, saat ditemui dikantornya belum lama ini.
Untuk memastikan kelancaran di lapangan, Polres Lombok Timur telah memetakan beberapa titik pengawasan utama. Di wilayah perkotaan, pengamanan akan dipusatkan di kawasan Pancor. Sementara itu, untuk jalur utama yang menjadi urat nadi pemudik, pos pengamanan akan ditempatkan di Pelabuhan, Lombok, hingga Terara.
AKP Abdul Rachman menegaskan bahwa pihaknya tidak ingin bersikap meremehkan (underestimate) meski ada prediksi penurunan persentase pemudik secara nasional dibandingkan tahun 2025 lalu.
"Kami tetap bersiaga untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk. Pos pengamanan akan dijaga 24 jam secara piket. Selain itu, kami menyiagakan tim mobile untuk mengantisipasi kemacetan di titik yang tidak terjangkau pos statis, sehingga penanganannya bisa lebih cepat," tambahnya.
Terkait kekuatan personel, pengelolaan pos pengamanan berada di bawah kendali Bag Ops Polres Lombok Timur karena melibatkan personel gabungan dari berbagai fungsi dan Polsek jajaran. Namun, AKP Abdul Rachman memastikan setiap pos akan diperkuat oleh personel khusus lalu lintas.
"Setiap pos akan ada empat anggota Satlantas yang standby untuk mengatur kelancaran arus," pungkasnya.
Melalui persiapan matang dan manajemen "dua puncak" ini, diharapkan masyarakat yang melakukan perjalanan mudik menuju atau melintasi Lombok Timur dapat merasa aman dan terlayani dengan baik selama masa libur lebaran.

