Di Balik Kain yang Menjadi Arang, Ada Tangis Pedagang yang Kehilangan Segalanya

Rosyidin S
Selasa, April 28, 2026 | 15.56 WIB Last Updated 2026-04-28T07:56:49Z
Pasca Kebakaran: Tumpukan material lapak dan toko di pasar Peringgabya akibat kebakaran melanda tempat itu, (Foto: Rosyidin/MP).

MANDALIKAPOST.com – Asap tipis masih mengepul di antara tumpukan kain yang menjadi arang dan besi-besi lapak yang membara. Pasar Pringgabaya, yang biasanya menjadi pusat denyut ekonomi warga, kini berubah menjadi hamparan duka setelah api menghanguskan ratusan lapak, termasuk 48 toko di area tersebut.


Bagi para pedagang, kebakaran ini bukan sekadar kehilangan materi, melainkan hilangnya sawah dan ladang tempat mereka menggantungkan hidup selama puluhan tahun.


H. Asy'ari Ali, salah satu pedagang konveksi asal Kecamatan Wanasaba, tak mampu menyembunyikan gurat kesedihan di wajahnya. Baru saja ia menambah stok dagangan di kedua toko miliknya untuk hari pasar, takdir berkata lain.


"Secara kebetulan hari Sabtu minggu yang lalu saya turunkan barang di keduanya, ya sekitar Rp500-an juta. Jenis dagangannya konveksi kain, seperti sarung Juara Dunia, Apolo, pakaian sekolah dan kebutuhan semua ada di sana," tutur H. Asy’ari dengan suara bergetar di lokasi kejadian.


Ia menceritakan kronologi saat dirinya menerima telepon setelah shalat magrib dari anak buahnya yang mengabarkan api telah mengepung pasar. Sesampainya di lokasi, ia hanya bisa terpaku melihat api yang melahap habis usahanya.


"Namanya manusia biasa, Pak. Kami sedang bingung harus mulai dari mana. Modal sudah ludes semua, sudah bercampur debu," tambahnya.


Hal serupa dirasakan oleh Hj. Rauhun. Kesedihan mendalam menyelimuti dirinya, apalagi sebagian besar barang yang terbakar adalah stok pakaian sekolah dan perlengkapan santri yang rencananya akan disumbangkan dan dijual untuk musim ajaran baru.


"Barang pakaian sekolah ini sudah kita siapkan. Sebenarnya ada yang sudah dimasukkan karung, kelihatannya masih utuh tapi sudah jadi arang di dalamnya. Sarung Juara Dunia itu satu juta per biji, ada gamis harga Rp300 ribu sampai Rp400 ribu, semuanya habis," ungkap Hj. Rauhun sembari menatap puing lapaknya.


Di sudut lain, Bu Erni, pedagang pakaian dan gorden (valen), menceritakan betapa cepatnya api merenggut segalanya. Ia menaksir kerugian mencapai Rp300 juta. Baginya, tidak ada yang bisa dibawa pulang kecuali besi tua untuk ditimbang.


"Waktu saya ke sini, api sudah di tengah, sudah naik tinggi. Saya bilang, ini punya Allah, diambil sama Allah. Tapi jujur, kita tidak punya usaha lain, sawah ladang kami cuma pasar ini," ucap Bu Erni lirih.


Para pedagang kini menaruh harapan besar pada Pemerintah Kabupaten Lombok Timur agar segera melakukan evakuasi puing dan memberikan kejelasan terkait tempat berjualan sementara.


Meski pemerintah daerah mulai merencanakan langkah-langkah darurat, para pedagang memiliki keinginan kuat agar mereka tetap diizinkan berjualan di lokasi semula setelah dibersihkan.


"Harapan kami supaya segera diperhatikan agar kami cepat pulih kembali untuk kebutuhan anak-anak. Kami harap di tempat itu bisa dibikinkan lapak lagi, karena pelanggan kami sudah banyak di sana," harap H. Asy'ari.


Senada dengan itu, Bu Erni berharap adanya bantuan modal atau skema pinjaman untuk memulai kembali usahanya.


"Semoga pasarnya cepat diperbaiki dan ada bantuan modal awal. Setidaknya pasar ini tetap jalan, jangan dipindahkan permanen, supaya kami bisa segera jualan lagi," tutupnya.


Hingga berita ini diturunkan, para pedagang masih terlihat mendatangi lokasi untuk mencoba mencari barang-barang yang sekiranya masih memiliki nilai, sembari menunggu langkah konkret dari pihak terkait untuk memulai proses pemulihan ekonomi di Pasar Pringgabaya.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Di Balik Kain yang Menjadi Arang, Ada Tangis Pedagang yang Kehilangan Segalanya

Trending Now