Sekda Lotim Resmikan Ekowisata Mangrove Sugian, Filosofi Cinta dan Perlindungan Jadi Pesan Utama

Rosyidin S
Minggu, April 05, 2026 | 20.52 WIB Last Updated 2026-04-05T13:57:50Z
Resmikan: Sekertaris Daerah Lombok Timur, H.M Juaini Taofik memotong Vita saat melonching ekowisata Mangrove di Sugian, (Foto: Istimewa/MP).

MANDALIKAPOST.com — Peluncuran Ekowisata Mangrove Taman Wisata Alam (TWA) Keramat Suci di Desa Sugian, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, Sabtu (4/4/2026), berlangsung penuh makna. Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Lombok Timur, H. Muhammad Juaini Taofik, tidak hanya meresmikan destinasi baru tersebut, tetapi juga menyampaikan pesan filosofis tentang cinta, perlindungan, dan keberlanjutan yang ia ibaratkan seperti rimbunnya hutan mangrove.


Dalam sambutannya, Sekda Juaini Taofik menggambarkan mangrove bukan sekadar lanskap hijau di wilayah pesisir, melainkan simbol kehidupan yang mengajarkan nilai kesederhanaan dan tanggung jawab.


“Di balik rimbunnya mangrove, ada kesan sederhana. Cinta yang baik adalah tentang menjaga dan melindungi, bukan sekadar memiliki. Filosofi ini menjadi fondasi kuat membangun rumah tangga yang bebas dari kekerasan (KDRT),” ujarnya di hadapan peserta peluncuran.


Menurutnya, cara pandang manusia terhadap alam memiliki kesamaan dengan hubungan antarmanusia. Ketika rasa memiliki muncul secara berlebihan, potensi kerusakan justru meningkat. Sebaliknya, kesadaran untuk melindungi akan menciptakan keberlanjutan, baik bagi ekosistem maupun keharmonisan keluarga.


“Jika manusia merasa memiliki secara berlebihan, maka kecenderungannya adalah merusak. Namun ketika kita memilih untuk melindungi, keberlanjutan alam dan hubungan sosial akan tetap terjaga,” tambahnya.


Ekowisata Mangrove Sugian sendiri merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Lombok Timur, masyarakat Desa Sugian, serta lembaga kemanusiaan Wahana Visi Indonesia (WVI). Sekda mengapresiasi peran WVI yang dinilai tidak hanya fokus pada pelestarian lingkungan, tetapi juga mendorong penguatan ekonomi masyarakat pesisir.


“Tujuannya bukan sekadar merestorasi hutan mangrove, melainkan memastikan variasi ekonomi di wilayah Sambelia semakin kuat dan masyarakat semakin sejahtera,” kata Juaini.


Meski optimistis terhadap pengembangan destinasi tersebut, ia mengingatkan pentingnya tata kelola yang profesional. Sekda menegaskan agar pengelola mampu memisahkan antara kepemilikan aset dan manajemen pengelolaan destinasi wisata.


“Banyak destinasi wisata tumbang karena gagal membedakan kepemilikan dan manajemen. Ketahanan destinasi terletak pada kekuatan kolektif, bukan persaingan yang tidak sehat,” tegasnya.


Untuk memperkuat daya saing ekowisata, Sekda juga mendorong Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) agar berfokus pada tiga pilar utama, yakni aksesibilitas, komunikasi, dan atraksi wisata.


“Pokdarwis harus menjadi nyawa destinasi dengan menciptakan atraksi kreatif tanpa merusak kelestarian mangrove. Pemerintah dan WVI hadir sebagai pendamping,” jelasnya.


Sementara itu, Kepala Desa Sugian, Lalu Mustiadi, menyampaikan bahwa wilayahnya memiliki potensi besar karena berhadapan langsung dengan kawasan Gili Sulat dan Gili Lawang. Selama ini, penataan kawasan Pantai Gubuk Bedek telah mendapat pendampingan intensif melalui program regreen mangrove yang dijalankan WVI.


“Kami berharap kolaborasi ini terus berlanjut, termasuk pengembangan potensi lain seperti tambak masyarakat, agar Desa Sugian bisa sejajar dengan desa wisata maju lainnya di Lombok Timur,” ungkap Mustiadi.


Perwakilan Wahana Visi Indonesia (WVI), Sidiq, menambahkan bahwa pengembangan kawasan mangrove di Sugian merupakan bagian dari rencana jangka panjang yang dirancang selama lima hingga sepuluh tahun ke depan.


“Fokus kami bukan hanya menanam mangrove, tetapi melakukan restorasi menyeluruh yang berdampak pada perlindungan lingkungan sekaligus pemberdayaan masyarakat,” jelasnya.


Peluncuran ekowisata tersebut ditandai dengan penyerahan Masterplan Ekonomi Wisata Mangrove dari WVI kepada Pemerintah Desa Sugian serta dokumen pelatihan ekowisata kepada Mangku Kadus Alam sebagai bagian dari penguatan kapasitas pengelola lokal.


Acara ini turut dihadiri Kabid PMD Lombok Timur, unsur Forkopimcam Sambelia yang terdiri dari Camat, Kapolsek, dan Danramil, serta tokoh masyarakat setempat.


Dengan diresmikannya Ekowisata Mangrove TWA Keramat Suci, Desa Sugian optimistis berkembang menjadi desa wisata mandiri, dengan kesejahteraan masyarakat yang diharapkan tumbuh sekuat akar mangrove yang menopang pesisir mereka dari abrasi dan perubahan zaman.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Sekda Lotim Resmikan Ekowisata Mangrove Sugian, Filosofi Cinta dan Perlindungan Jadi Pesan Utama

Trending Now