![]() |
| Resmikan: Sekertaris Daerah Lombok Timur, H.M Juaini Taofik memotong Vita saat melonching ekowisata Mangrove di Sugian, (Foto: Istimewa/MP). |
Dalam sambutannya, Sekda Juaini
Taofik menggambarkan mangrove bukan sekadar lanskap hijau di wilayah pesisir,
melainkan simbol kehidupan yang mengajarkan nilai kesederhanaan dan tanggung
jawab.
“Di balik rimbunnya mangrove, ada
kesan sederhana. Cinta yang baik adalah tentang menjaga dan melindungi, bukan
sekadar memiliki. Filosofi ini menjadi fondasi kuat membangun rumah tangga yang
bebas dari kekerasan (KDRT),” ujarnya di hadapan peserta peluncuran.
Menurutnya, cara pandang manusia
terhadap alam memiliki kesamaan dengan hubungan antarmanusia. Ketika rasa
memiliki muncul secara berlebihan, potensi kerusakan justru meningkat.
Sebaliknya, kesadaran untuk melindungi akan menciptakan keberlanjutan, baik
bagi ekosistem maupun keharmonisan keluarga.
“Jika manusia merasa memiliki secara
berlebihan, maka kecenderungannya adalah merusak. Namun ketika kita memilih
untuk melindungi, keberlanjutan alam dan hubungan sosial akan tetap terjaga,”
tambahnya.
Ekowisata Mangrove Sugian sendiri
merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Lombok Timur, masyarakat
Desa Sugian, serta lembaga kemanusiaan Wahana Visi Indonesia (WVI). Sekda
mengapresiasi peran WVI yang dinilai tidak hanya fokus pada pelestarian
lingkungan, tetapi juga mendorong penguatan ekonomi masyarakat pesisir.
“Tujuannya bukan sekadar merestorasi
hutan mangrove, melainkan memastikan variasi ekonomi di wilayah Sambelia
semakin kuat dan masyarakat semakin sejahtera,” kata Juaini.
Meski optimistis terhadap
pengembangan destinasi tersebut, ia mengingatkan pentingnya tata kelola yang
profesional. Sekda menegaskan agar pengelola mampu memisahkan antara
kepemilikan aset dan manajemen pengelolaan destinasi wisata.
“Banyak destinasi wisata tumbang
karena gagal membedakan kepemilikan dan manajemen. Ketahanan destinasi terletak
pada kekuatan kolektif, bukan persaingan yang tidak sehat,” tegasnya.
Untuk memperkuat daya saing
ekowisata, Sekda juga mendorong Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) agar berfokus
pada tiga pilar utama, yakni aksesibilitas, komunikasi, dan atraksi wisata.
“Pokdarwis harus menjadi nyawa
destinasi dengan menciptakan atraksi kreatif tanpa merusak kelestarian
mangrove. Pemerintah dan WVI hadir sebagai pendamping,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Sugian,
Lalu Mustiadi, menyampaikan bahwa wilayahnya memiliki potensi besar karena
berhadapan langsung dengan kawasan Gili Sulat dan Gili Lawang. Selama ini,
penataan kawasan Pantai Gubuk Bedek telah mendapat pendampingan intensif
melalui program regreen mangrove yang dijalankan WVI.
“Kami berharap kolaborasi ini terus
berlanjut, termasuk pengembangan potensi lain seperti tambak masyarakat, agar
Desa Sugian bisa sejajar dengan desa wisata maju lainnya di Lombok Timur,”
ungkap Mustiadi.
Perwakilan Wahana Visi Indonesia
(WVI), Sidiq, menambahkan bahwa pengembangan kawasan mangrove di Sugian
merupakan bagian dari rencana jangka panjang yang dirancang selama lima hingga
sepuluh tahun ke depan.
“Fokus kami bukan hanya menanam
mangrove, tetapi melakukan restorasi menyeluruh yang berdampak pada
perlindungan lingkungan sekaligus pemberdayaan masyarakat,” jelasnya.
Peluncuran ekowisata tersebut
ditandai dengan penyerahan Masterplan Ekonomi Wisata Mangrove dari WVI kepada
Pemerintah Desa Sugian serta dokumen pelatihan ekowisata kepada Mangku Kadus
Alam sebagai bagian dari penguatan kapasitas pengelola lokal.
Acara ini turut dihadiri Kabid PMD
Lombok Timur, unsur Forkopimcam Sambelia yang terdiri dari Camat, Kapolsek, dan
Danramil, serta tokoh masyarakat setempat.
Dengan diresmikannya Ekowisata
Mangrove TWA Keramat Suci, Desa Sugian optimistis berkembang menjadi desa
wisata mandiri, dengan kesejahteraan masyarakat yang diharapkan tumbuh sekuat
akar mangrove yang menopang pesisir mereka dari abrasi dan perubahan zaman.

