Strategi Amran Lawan Kemarau 2026, Kumpulkan 170 Bupati dan Guyur Rp12 Triliun untuk Irigasi-Perkebunan

Rosyidin S
Jumat, April 24, 2026 | 17.39 WIB Last Updated 2026-04-24T09:39:10Z
Rakornas: Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman saat menyampaikan arahannya dalam Rapat Koordinasi Nasional bersama 170 Bupati di seluruh Indonesia, (Foto: Istimewa/MP).

JAKARTA, MANDALIKAPOST.com — Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengambil langkah cepat dalam menjaga stabilitas pangan nasional menghadapi ancaman musim kemarau 2026.


Dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) yang digelar di Kantor Pusat Kementerian Pertanian (Kementan), Senin (20/4) empat hari lalu, Mentan mengumpulkan 170 bupati dari seluruh Indonesia untuk memperkuat sinergi antara pusat dan daerah.


Langkah konsolidasi ini bertujuan memastikan program strategis, mulai dari penguatan irigasi hingga pengembangan sektor perkebunan, berjalan efektif di level akar rumput.


Kementerian Pertanian mengalokasikan anggaran sebesar Rp12 triliun untuk didistribusikan ke daerah, di mana lebih dari Rp3 triliun difokuskan khusus untuk penguatan sistem irigasi. Program ini mencakup rehabilitasi jaringan, optimalisasi lahan (oplah), serta pengadaan 80 ribu unit pompa untuk mengairi hampir 1 juta hektare lahan.


Mentan Amran menegaskan bahwa keterlibatan aktif kepala daerah adalah penentu utama kucuran anggaran ini.


“Kami dorong anggaran irigasi lebih dari Rp3 triliun. Distribusinya tidak dibagi rata. Kita lihat potensi dan respons kepala daerah. Kalau bupatinya aktif, kita percepat,” tegas Mentan Amran.


Selain tanaman pangan, pemerintah memberikan perhatian besar pada sektor perkebunan dengan menyiapkan anggaran Rp9,95 triliun untuk periode 2026–2027.


Program hibah ini ditujukan untuk komoditas strategis seperti tebu, kakao, kelapa, kopi, pala, hingga jambu mete dengan target pengembangan lahan seluas 870 ribu hektare.


Namun, Amran memberikan catatan keras terkait produktivitas, terutama pada komoditas tebu yang dinilai menurun dibanding masa lalu.


“Dulu waktu dijajah, kerja paksa, tidak digaji, tapi produksi tebu bisa 14 ton. Sekarang sudah merdeka, ada pemerintah, ada bupati, justru turun jadi 4–5 ton. Di mana salahnya? Jawabannya pelaksanaan. Kalau produktivitas rendah, petani tidak untung, tidak bisa beli pupuk. Ini lingkaran yang harus kita putus,” jelasnya.


Di tengah kekhawatiran dampak El Nino, Mentan memberikan kabar baik mengenai cadangan pangan nasional. Saat ini, posisi standing crop (tanaman di lapangan) mencapai sekitar 11 juta ton, ditambah cadangan di sektor rumah tangga dan horeka sebesar 12,5 juta ton.


“Tiga hari ke depan, mencapai 5 juta ton. Itu kabar baik. Totalnya bisa (mencukupi) 11 bulan. Estimasi El Nino itu hanya 6 bulan. Artinya lebih dari cukup,” tambah Amran.


Menutup arahannya, Mentan Amran meminta para bupati untuk lebih proaktif dalam memantau pengerjaan proyek di lapangan. Ia tidak ingin anggaran yang sudah ditransfer justru mengendap tanpa realisasi fisik yang nyata.


“Saya turun langsung, ada yang belum dibangun padahal uangnya sudah ada. Jangan semua dilempar ke pusat,” pungkasnya.


Melalui pencetakan sawah baru seluas 30 ribu hektare dan penggunaan benih tahan kekeringan, Kementan optimistis Indonesia mampu meningkatkan indeks pertanaman (IP) dari satu kali menjadi dua hingga tiga kali tanam per tahun, sekaligus memperkokoh kedaulatan pangan di tengah tantangan iklim global.


Selain itu ada beberapa catatan target yang harus direalisasikan tahu 2026 ini, diantaranya. Target Irigasi yakni 1,5 juta hektare (termasuk 80 ribu unit pompa), lalu target perkebunan itu seluas 870 ribu hektare (anggaran Rp9,95 T).


 "Sementara target pencetakan sawah baru (PSB) seluas 30.000 hektare. Dan yang terakhir ketahanan stok harus mencapai 11 bulan ke depan," tutupnya.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Strategi Amran Lawan Kemarau 2026, Kumpulkan 170 Bupati dan Guyur Rp12 Triliun untuk Irigasi-Perkebunan

Trending Now