Menakar Nyali Pemuda: Menjadi Lokomotif Pendidikan di Gumi Selaparang

Rosyidin S
Minggu, Mei 03, 2026 | 14.21 WIB Last Updated 2026-05-03T06:21:08Z
Sekertaris DPD II KNPI Lombok Timur, Muh. Muhir Fauzi, M.Pd, (Foto: Istimew/MP).

MANDALIKAPOST.com - Tanggal 2 Mei bukan sekadar seremoni mengenang kelahiran Ki Hajar Dewantara. Lebih dari itu, Hardiknas adalah ajang refleksi nasional untuk mengukur sejauh mana pendidikan kita berlari


Di tengah deru ambisi menuju Indonesia Emas, sebuah pertanyaan krusial muncul ke permukaan: Di mana posisi pemuda dalam barisan ini?


Sekretaris DPD II KNPI Kabupaten Lombok Timur, Muh. Munir Fauzi, M.Pd, menegaskan bahwa pemuda tidak boleh lagi hanya menjadi penonton atau objek pasif dalam sistem pendidikan.


"Pemuda harus menjadi subjek, pelaku, dan agen perubahan yang aktif. Peran kita sangat vital dan strategis," ujarnya dalam sebuah catatan refleksi pendidikan.


Menurutnya, ada tiga pilar utama yang harus dipancangkan oleh generasi muda untuk memajukan pendidikan, khususnya di daerah.


Tantangan pendidikan di pelosok Kabupaten Lombok Timur, mulai dari pesisir hingga pegunungan, masih berkutat pada akses dan pola pikir. Di sinilah energi pemuda dibutuhkan sebagai mesin penggerak semangat belajar.


Munir menekankan bahwa pemuda adalah jembatan komunikasi yang paling efektif bagi anak-anak di desa.


"Kita hadir untuk menunjukkan bukti nyata bahwa pendidikan adalah jalan keluar dari keterbatasan," tuturnya.


Melalui organisasi seperti KNPI, para pemuda terjun langsung berbagi pengalaman untuk meyakinkan masyarakat bahwa sekolah bukan sekadar beban biaya, melainkan investasi masa depan.


Di era transformasi digital, pendidikan tidak lagi terkurung dalam sekat papan tulis dan buku cetak. Namun, jurang digital antara kota dan desa masih menganga. Pemuda, sebagai digital native, memiliki tanggung jawab moral untuk memangkas kesenjangan tersebut.


"Pemuda hadir sebagai jembatan teknologi. Kita harus berani berinovasi mencari solusi cerdas, misalnya dengan memanfaatkan media sosial untuk edukasi atau mengembangkan konten pembelajaran yang interaktif," jelas Munir.


Kreativitas ini diharapkan mampu membawa kualitas pendidikan di Lombok Timur setara dengan daerah maju lainnya di Indonesia.


Pilar terakhir yang tak kalah penting adalah peran pemuda sebagai penjaga moral. Pendidikan tanpa karakter hanya akan mencetak robot pintar yang hampa empati. Munir mengingatkan kembali pesan Ki Hajar Dewantara bahwa tujuan pendidikan adalah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya sebagai manusia.


"Pemuda harus menjadi garda terdepan dalam menanamkan nilai luhur, anti-perundungan (*bullying*), dan menjunjung tinggi etika. Bangsa yang besar adalah bangsa yang unggul ilmunya dan mulia akhlaknya," tegasnya.


Membangun Lombok Timur yang maju adalah mustahil tanpa penguatan Sumber Daya Manusia (SDM). Momentum Hardiknas 2026 ini harus menjadi titik balik bagi kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pemuda.


Menutup opininya, Munir memberikan pesan kuat bagi seluruh elemen kepemudaan di Gumi Selaparang.


"Mari bergandengan tangan bahu-membahu mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan yang baik adalah investasi terbaik untuk Indonesia Emas, dan pemudalah yang akan memanen hasilnya," pungkasnya.


Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026. Saatnya pemuda bergerak, saatnya Lombok Timur SMART bergelora.


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Menakar Nyali Pemuda: Menjadi Lokomotif Pendidikan di Gumi Selaparang

Trending Now