![]() |
| Event: Detik-detik pelepasan peserta lari Rinjani 100 Ultra di Sembalun, (Foto: Rosyidin/MP). |
Tercatat sebanyak 2.275 pelari dari 48 negara memadati garis start di Pantai Pekendangan, Belanting, untuk menaklukkan medan teknikal Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR). Angka ini meningkat signifikan dibandingkan edisi ke-13 tahun 2025 yang hanya diikuti oleh 1.100 peserta.
Koordinator Balapan, H. Hendricus Mutter, menegaskan bahwa dentuman konflik di Timur Tengah tidak menyurutkan minat para atlet internasional untuk datang ke Lombok. Menurutnya, Rinjani tetap menjadi magnet utama bagi mereka yang mencari tantangan fisik dan mental ekstrem.
"Meskipun situasi dunia tidak menentu, jumlah peserta tidak terpengaruh oleh perang antara Iran dengan Zionis Israel dan sekutunya. Buktinya, jumlah peserta yang ikut lomba tahun ini lebih meningkat dari tahun kemarin," ujar Hendricus saat ditemui di Sembalun, Sabtu malam (2/5).
Ia menambahkan bahwa olahraga memiliki cara tersendiri untuk tetap berjalan di tengah krisis. "Dunia mungkin sedang tegang, tapi di sini, yang ada hanyalah tekad untuk menaklukkan puncak," imbuhnya.
Menariknya, lonjakan peserta tahun ini didominasi oleh pelari asal China. Hal ini berbanding terbalik dengan tahun sebelumnya di mana warga China masih dibatasi oleh status pandemi COVID-19.
"Tahun lalu, China masih dalam status pembatasan ketat. Sekarang, mereka bebas bepergian. Meskipun ada situasi perang tahun ini, pelari China terbukti tidak terpengaruh dan tetap hadir sebagai kontingen terbesar," jelas Hendricus.
Pada edisi ke-14 ini, kategori 36K tetap menjadi primadona dengan 1.100 peserta. Sementara itu, kategori baru yang dikenal paling brutal, yakni 162K dengan cut-off time 55 jam, menjadi tantangan baru bagi para pelari elite.
Untuk kategori hiburan, jarak 12K diikuti oleh 298 orang, termasuk pelari dari Taiwan, Belanda, Jerman, Kanada, Malaysia, Prancis, Rusia, Inggris, Singapura, dan tentu saja Indonesia.
Penyelenggaraan Rinjani 100 Ultra tidak hanya soal kompetisi, tetapi juga menjadi napas bagi ekonomi lokal di Sembalun. Sektor homestay, transportasi, hingga kuliner lokal merasakan dampak langsung dari kehadiran ribuan tamu mancanegara tersebut.
Pihak panitia telah menetapkan target yang lebih tinggi untuk tahun depan. "Target kita tahun depan adalah 2.500 peserta," pungkas Hendricus optimistis.
Bagi masyarakat lokal, pendaftaran kategori 12K dipatok seharga Rp400 ribu, sementara untuk warga negara asing dikenakan biaya Rp600 ribu. Seluruh peserta akan melewati rute ikonik mulai dari Sembalun, Bukit Tiga, memutar ke Kandang Sapi, dan kembali menuju garis finish.

