Fasilitas ini diproyeksikan menjadi jembatan literasi bagi pengunjung dan masyarakat lokal untuk lebih memahami sejarah pembentukan Pulau Lombok serta keterkaitannya dengan budaya lokal.
General Manager Litbang Geopark Rinjani, Meliawati, menjelaskan bahwa pusat informasi ini hadir untuk menjawab keresahan wisatawan yang seringkali kesulitan mencari data teknis maupun edukatif saat berkunjung ke Sembalun.
"Seringkali pengunjung yang datang mau cari informasi itu ke mana, itu kan belum ada di Sembalun. Jadi, dengan ke sini, ada pengetahuan lebih yang dibawa pulang. Tidak hanya datang, tapi bisa lebih memahami dan mengapresiasi apa yang kita punya," ujar Meliawati saat ditemui di Sembalun, Sabtu (2/4).
Selain menyasar wisatawan umum, Meliawati menekankan pentingnya edukasi bagi generasi muda. Menurutnya, anak-anak lokal sering kali melihat fenomena alam di sekitar mereka sebagai hal biasa karena kurangnya literasi. Padahal, kekayaan geologi Rinjani telah diakui secara internasional.
"Anak-anak itu sangat minim tempat untuk belajar. Mereka melihat ini setiap hari tapi tidak disadari ini tuh apa, karena dianggap biasa. Padahal dunia saja mengakui ini luar biasa," katanya.
Guna mempermudah penyampaian materi, pihak pengelola tengah menyusun buku cerita ramah anak dengan bahasa yang sederhana. Tujuannya agar hubungan antara peristiwa geologi, flora-fauna, hingga kebudayaan manusia (antropologi) dapat dipahami sejak dini.
"Ada kaitan antara peristiwa kebumian atau gunung api dengan flora-fauna yang tumbuh di atasnya, juga tentang budaya manusia. Semuanya terkait. Proses geologi memberikan konsekuensi terhadap kebudayaan masyarakat," tambah Meliawati.
Pusat informasi ini menyimpan berbagai koleksi batuan unik, mulai dari jenis lava hingga contoh batuan dari gunung api purba yang ada sebelum kompleks Gunung Rinjani terbentuk. Menariknya, Meliawati mengungkapkan bahwa wilayah Sembalun yang ditempati masyarakat saat ini sebenarnya adalah lantai dari sebuah kaldera raksasa.
"Kita ini sedang berdiri di lantai kaldera, di lantai kawah. Itulah mengapa karakteristiknya berbeda antara selatan, utara, timur, dan barat," jelasnya.
![]() |
| General Manager Geopark Rinjani, Qwadru Putro Wicaksono saat menjelaskan fungsi pusat informasi Geopark Rinjani kepada Gubernur NTB, Sekda Lombok dan tamu undangan lainnya, (Foto: Rosyidin/MP). |
"Lombok ini baru terangkat sekitar 10 juta tahun lalu. Jadi jangan bayangkan fosil yang ada di sini itu seperti di tempat lain yang minimal 65 juta tahun. Di sini adanya fosil-fosil moluska," terangnya.
Saat ini, Pusat Informasi Geopark Rinjani masih terus melakukan pengembangan, baik dari segi fasilitas ruangan maupun prosedur kunjungan kelompok. Sebagai aset pemerintah, tempat ini terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar.
"Ini milik bersama, siapa saja boleh datang. Untuk rombongan belajar, prosedurnya cukup bersurat saja agar kami bisa menyiapkan fasilitas dan pemandunya," tutup Meliawati.
Kehadiran pusat informasi ini diharapkan mampu meningkatkan nilai tawar pariwisata Sembalun, menjadikannya destinasi yang tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga mencerdaskan bangsa melalui kekayaan bumi Rinjani.


