![]() |
| Humaria: Dr. Fathurrijal (tengah) berpose bersama dengan para calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di komplek Rindam XIII Merdeka Tomohon, Sulawesi Utara, (Foto: Istimewa/MP). |
Hal tersebut ditegaskan oleh akademisi Fakultas Agama Islam sekaligus Asesor Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT), Fathurrijal. Menurutnya, gagasan besar pembangunan ekonomi desa memerlukan eksekutor yang bermental kuat dan berkeahlian mumpuni.
"Membicarakan pembangunan Indonesia yang selalu bermuara pada satu titik krusial desa. Slogan membangun dari pinggiran tidak akan pernah bertransformasi menjadi kesejahteraan nyata tanpa adanya instrumen ekonomi yang kokoh di tingkat akar rumput," ujar Fathurrijal dalam keterangan resminya diterima mandalikapost.com, Selasa (4/8).
Sebagai bentuk komitmen nyata dalam menyiapkan SDM berkualitas, konsorsium LSP perguruan tinggi Muhammadiyah-Aisyiyah bersama pemerintah menggelar Uji Kompetensi (Ujikom) bagi para Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI). Kegiatan yang berlangsung pada 27–30 Juli lalu di Dodikjur Rindam XIII/Merdeka, Tomohon, Sulawesi Utara ini diikuti sekitar 330 calon manajer KDKMP.
Fathurrijal menilai pemilihan fasilitas militer sebagai lokasi pembekalan dan asesmen memiliki makna simbolis yang mendalam terhadap pembentukan karakter para calon pengelola koperasi.
"Bagi saya, pemilihan tempat tersebut menjadi simbol tempaan karakter, ketangguhan, dan disiplin tinggi yang menjadi prasyarat mutlak bagi seorang penggerak ekonomi di garis depan," ungkapnya.
Standar Kompetensi Ketat dan Profesional
Dalam menguji para asesi, penentuan kelayakan manajer tidak lagi didasarkan pada sekadar semangat kekeluargaan, melainkan standar tata kelola yang baik (good governance) sesuai kualifikasi okupasi nasional. Para calon manajer diuji pada berbagai unit kompetensi manajerial, mulai dari penyusunan Rencana Strategis (Renstra), Rencana Anggaran Pendapatan dan Biaya Koperasi (RAPBK), hingga manajemen risiko finansial dan kemitraan bisnis.
Fathurrijal menyoroti kedisiplinan dan dedikasi para peserta yang dinilainya sangat tinggi selama proses uji kompetensi berlangsung.
"Keseriusan pemerintah dalam menyiapkan calon-calon manajer terlihat saat saya menguji salah satu asesi yang mengalami musibah patah kaki. Meski dalam kondisi sakit, ia tetap bertanggung jawab menyelesaikan tugas-tugas perkoperasian dan mengikuti Ujikom dengan baik," jelas Fathurrijal.
Ia menambahkan bahwa kombinasi antara penguasaan teknis dan kedisiplinan tinggi melahirkan sosok pengelola desa yang adaptif dan berintegritas.
"Mereka adalah hibrida antara agen perubahan sosial dan teknokrat ekonomi lokal," tegasnya.
Menjawab Skeptisisme Publik
Menanggapi adanya dinamika pro dan kontra di tengah masyarakat mengenai efektivitas program KDKMP, Fathurrijal memandangnya sebagai hal lumrah dalam sosiologi pembangunan. Menurutnya, keraguan publik sering kali dipicu oleh kegagalan tata kelola koperasi di masa lalu. Oleh karena itu, langkah pemerintah mencetak pengelola tersertifikasi merupakan jawaban konkret atas skeptisisme tersebut.
"Pemerintah dan para pemangku kepentingan tentu tidak boleh alergi terhadap berbagai kritik, koreksi, maupun keraguan yang disuarakan oleh masyarakat. Sebaliknya, kritik-kritik konstruktif tersebut harus diposisikan sebagai pemantik untuk melahirkan para punggawa koperasi yang jauh lebih mumpuni," paparnya.
Fathurrijal meyakini bahwa langkah strategis ini sejalan dengan visi besar pemerintah dalam menggerakkan perekonomian nasional dari desa. Dengan fondasi kompetensi yang teruji, koperasi tidak lagi dipandang sebagai entitas ekonomi yang lamban, melainkan lembaga modern yang kompetitif.
"Dengan fondasi kompetensi yang telah diuji secara ketat dan mental yang telah ditempa melalui kedisiplinan tinggi, kita patut optimis. Dari desa, kebangkitan ekonomi Indonesia bukan lagi sekadar angan-angan, melainkan sebuah keniscayaan yang sedang dijemput," pungkasnya.

