![]() |
MANDALIKAPOST.com— Harga dan ketersediaan bahan pokok di Nusa Tenggara Barat (NTB) terpantau terkendali. Sejumlah komoditas bahkan dijual di bawah harga acuan pemerintah. Kondisi ini menjadi modal penting bagi NTB dalam menjaga stabilitas pangan dan daya beli masyarakat, terutama menjelang perayaan Natal 2026 dan Tahun Baru 2027 (Nataru).
Hal tersebut terungkap dalam Sidak Pasar Kebon Roek, Mendag dan Wagub Pastikan Harga Pangan NTB Stabil dan Pasokan Aman Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan harga tetap terkendali dan pasokan bahan pokok tersedia bagi masyarakat.
Dalam sidak tersebut, Mendag dan Wagub NTB memantau langsung harga sejumlah komoditas strategis, mulai dari cabai, beras, telur, daging ayam, bawang merah, hingga bawang putih. Hasil pemantauan menunjukkan sebagian besar harga komoditas masih berada di bawah atau sesuai dengan ketentuan harga acuan pemerintah.
Harga cabai tercatat berkisar Rp20.000 hingga Rp40.000 per kilogram, jauh di bawah harga acuan Rp55.000 per kilogram. Telur dijual di bawah Rp25.000, beras premium masih sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp14.900 per kilogram, sedangkan daging ayam berada di kisaran Rp35.000 per kilogram, di bawah harga acuan Rp40.000.
Bawang merah dijual sekitar Rp30.000 per kilogram, lebih rendah dari harga acuan Rp41.500. Sementara itu, bawang putih berada pada kisaran Rp28.000 hingga Rp30.000 per kilogram, di bawah harga acuan Rp39.000.
“Jadi, semua terkendali, pasokannya juga cukup. Secara umum, harga di Provinsi NTB, khususnya Kota Mataram, relatif stabil. Pasokan terjamin dan harga bahan pokok sesuai harga acuan, bahkan sebagian cenderung berada di bawah harga acuan,” ungkap Budi Santoso.
Mendag juga mengungkapkan bahwa NTB memiliki surplus sejumlah komoditas pangan, termasuk cabai. Potensi ini dinilai dapat dimanfaatkan untuk membantu memenuhi kebutuhan daerah lain yang mengalami kenaikan harga. Pemerintah pusat akan mengupayakan distribusi dari daerah surplus ke daerah yang membutuhkan melalui koordinasi dengan Bank Indonesia dan pemerintah daerah.
Untuk menjaga stabilitas harga secara berkelanjutan, pemerintah juga memperkuat pemantauan melalui Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP). Sistem ini memungkinkan perkembangan harga berbagai komoditas di pasar seluruh Indonesia dipantau setiap hari sehingga langkah intervensi dapat dilakukan secara lebih cepat dan tepat.
Menjelang Nataru, pemerintah pusat dan daerah terus memperkuat koordinasi untuk menjaga kelancaran distribusi, memastikan kecukupan pasokan, serta mengantisipasi potensi gejolak harga. Mendag turut mengapresiasi Pemerintah Provinsi NTB, Pemerintah Kota Mataram, Bank Indonesia, Bulog, perangkat daerah terkait, distributor, dan produsen yang berperan menjaga stabilitas pangan.
Kondisi harga yang terkendali dan pasokan yang mencukupi menjadi bukti pentingnya sinergi seluruh pemangku kepentingan. Pemerintah berkomitmen memastikan kebutuhan pokok masyarakat tetap terpenuhi, distribusi berjalan lancar, dan daya beli tetap terjaga, sehingga masyarakat dapat menyambut Natal dan Tahun Baru dengan tenang.

