Kisah Sasha, Janda Muda Freelancer Cafe Tradisional di Lombok Barat

MandalikaPost.com
Minggu, April 09, 2023 | 20.14 WIB Last Updated 2023-08-07T14:56:11Z
Pelayan warung cantik. (Ilustrasi)

MANDALIKAPOST.com - Wisata Suranadi di Kecamatan Narmada, Lombok Barat, tak hanya menawarkan wisata alam dengan ikon Taman Wisata Alam (TWA) Suranadi yang dikelola pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi NTB.


Sedikit menanjak dari TWA Suranadi dan gelar kuliner di dekatnya, deretan cafe tradisional cukup mudah ditemukan. Menyediakan kuliner ikan bakar, minuman tradisional, dan juga karaoke.





Bersama Sasha, sekelompok wanita muda berusia 20-30 tahunan duduk berkumpul di sebuah berugak di halaman cafe tradisional Suranadi, Sabtu sore 12 November 2022.




Keramahan mereka selalu menyapa pengunjung yang datang. Menawarkan jasa untuk menemani tamu, menuangkan minuman dan turut bernyanyi selama kunjungan.


"Kita cuma kerja freelancer, nemanin tamu yang minum dan nyanyi. Ya kayak PS (Partner Song), tapi tidak ada kontrak sama manajemen Cafe-nya," kata Sasha - sebut saja namanya begitu.


BACA JUGA : Dung Tak Dung !!, Kerlap-Kerlip Hiburan Malam Batu Gong Sumbawa


Sasha, wanita berusia 24 tahun. Mengaku berasal dari Kecamatan paling timur di Kabupaten Lombok Timur, Sasha sudah bekerja menjadi freelance di cafe tradisional Suranadi sejak akhir 2021 silam.


Sebulan setelah bercerai dengan suaminya, Sasha kebingungan mencari pekerjaan. Apalagi ia harus menjadi orangtua tunggal untuk seorang anak berusia 3 tahun.




"Saya janda anak satu. Waktu itu habis cerai sempat berpikir jadi TKW saja, tapi batal karena ada teman yang ngajak untuk kerja freelance begini. Akhir 2021 saya jadi freelancer di cafe, sampai sekarang," katanya.


Sebagai freelancer, Sasha tak mendapat gaji dari cafe. Penghasilannya murni dari pemberian tip tamu yang ditemani. Besarannya beragam, tergantung tamu yang datang.


"Di sini nggak ada tarifnya. Nggak  harus pakai tarif cas-casan per-jam seperti hiburan malam di Senggigi atau Mataram. Kita cuma temani tamu minum dan nyanyi, ya rata-rata tamu kasih tip ada yang Rp100 ribu - Rp200 ribu. Kadang lebih juga kalau tamunya nyaman," ujarnya.





Sama seperti Sasha, puluhan wanita menggantungkan nasib di Cafe-Cafe  Tradisional Suranadi dan sekitarnya. Berbeda dengan hiburan malam di Senggigi dan Kota Mataram yang banyak mempekerjakan wanita luar daerah. Di cafe tradisional, lebih banyak wanita berasal dari NTB, Lombok dan juga Sumbawa.


"Jumlah cewek freelance di sini banyak. Cafe saja ada 25-an. Kalau masing-masing ada 20 orang saja, sudah berapa itu," kata Sasha.


Sasha mengaku ingin bekerja yang lain, yang jauh dari cibiran. Tapi, bagi lulusan SMA seperti dia cukup sulit mendapatkan lapangan kerja di daerah ini.  


Cerita Sasha mewakili puluhan wanita yang berprofesi freelancer cafe tradisional di sini. Sebagian besar mereka adalah janda muda yang menjadi tulang punggung keluarga. 



Berharap Regulasi


Keberadaan cafe tradisional di Suranadi, Lombok Barat menjadi salah satu sumber perputaran ekonomi di kawasan. Selain para freelancer, setiap cafe rata-rata mempekerjakan 5 sampai 10 tenaga waitress dan keamanan.


Pedagang buah asongan juga menerima rejeki dari sini. Mereka selalu menjajakan dagangannya di kawasan.


"Kalau tidak salah jumlah cafe di sini bisa sampai 30 lebih. Ada yang besar dan kecil juga. Ya saat ini memang banyak yang bisa cari rejeki dengan keberadaan cafe ini," kata Abdel (35), pria pengelola sebuah cafe tradisional Suranadi.





Hanya saja, keberadaan yang masih remang membuat seringkali cafe menjadi sasaran razia, baik Satpol PP Lombok Barat, maupun pihak kepolisian.


"Rata-rata cafe tradisional buka sampai jam 8 malam saja," katanya.


Menurut Abdel, butuh regulasi untuk mengatur potensi ekonomi ini. 

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Kisah Sasha, Janda Muda Freelancer Cafe Tradisional di Lombok Barat

Trending Now